Ketika Ibadah Kurban Jadi Hal yang Amat Mewah di Mesir...

Berita 01/09/2017
Pedagang sapi Mesir berkumpul di Pasar Ashmun Menufia, 30 Agustus 2017, mencoba menjual ternak kepada pelanggan menjelang liburan Muslim tahunan Idul Adha

Pedagang ternak di Pasar Ashmun, sebelah utara Ibu Kota Mesir, Kairo, harus bekerja keras menarik pelanggan yang hendak membeli sapi atau pun domba untuk Idul Adha. Inflasi yang mencapai rekor tertinggi di negeri itu, membuat warga Mesir kesulitan untuk menjalankan ibadah kurban tahun ini. 

"Tahun lalu ada transaksi yang lebih banyak. Tahun ini, tidak ada yang mau membeli ternak karena kenaikan harga," kata salah seorang pedagang, Mohammed Masoud.

Semua biaya hidup di Mesir melambung tinggi, sejak negara itu mengalami krisis akhir tahun lalu.  Hal itu ditandai dengan anjloknya nilai tukar pound terhadap dollar hingga setengahnya, dan melonjaknya harga bahan bakar minyak.

Masoud bercerita, sebelum resesi, harga pakan ternak sekitar 2,5 pound  per satu kilogram. Kini harga pakan itu naik hingga nyaris tiga kali lipat, hingga tujuh pound.

"Anak sapi yang harganya 15.000 pound tahun lalu, sekarang harganya 30.000," kata dia seperti dikutip AFP.

Idul Adha adalah salah satu hari suci dalam kalender Islam, bersamaan dengan puncak ibadah haji yang berlangsung di Mekah, Arab Saudi. Daging selalu menjadi barang mewah bagi banyak orang di negara yang dilanda kemiskinan, termasuk Mesir. Pada bulan Juli, inflasi tahunan di Mesir mencapai 34,2 persen. Angka itu mengikuti serangkaian reformasi penghematan yang terkait dengan utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) senilai 12 miliar dolar AS. "Bahkan jika orang ingin membeli daging, satu kilogram berharga 130 pound," kata Nasser Abou Kila.

Kila datang ke pasar di Provinsi Menufia setelah menghabiskan waktu dua minggu untuk mencari harga ternak kurban yang terbaik di berbagai tempat.  Pedagang ternak mengaku sangat tidak beruntung tahun ini. Selain inflasi, wabah penyakit mulut dan kuku membuat banyak ternak mati. Harga ternak yang tersisa pun menjadi melambung tinggi. Tukang daging yang membeli dari pasar besar, seperti yang ada di Ashmun, juga harus memperhitungkan kenaikan harga transportasi. "Tahun lalu, harga untuk mengangkut ternak ke Kairo 100 sampai 150 pound. Tahun ini harganya 400 pound," kata seorang tukang daging, Said Masoud. "Tidak bisa dibandingkan dengan Idul Adha terakhir," kata tukang daging lain di Kairo, Hassan.

"Harga satu kilogram daging 85 pound, sekarang 150 sampai 160 pound," kata dia. Para konsumen pun jelas merasakan dampak resesi ini. "Untuk membeli dua kilogram untuk dua hari, anda harus membayar 300 pound, dan itu hanya untuk daging," kata Naglaa Rajab, seorang ibu rumah tangga berusia 30-an tahun. Sebelumnya, menjelang Idul Adha, Kementerian Pertanian berjanji akan menawarkan sekitar 50.000 ekor ternak dengan harga lebih murah daripada harga pasar. Harga yang dijanjikan antara 5-10 pound per kilogram.

"Kami ingin agar setiap warga negara memiliki hak untuk memesan sapi untuk kurban," kata Jurubicara Kementerian Pertanian Hamed Abdel Dayem.

Namun di negara dengan 28 persen dari 93 juta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, dan dengan inflasi yang juga berimbas ke kelompok kelas menengah, hanya sedikit sekali orang Mesir yang bisa membeli hewan kurban.

"Siapa yang mengurbankan seekor sapi tahun lalu, mengurbankan seekor domba tahun ini," kata Rajab.

"Dan siapa pun yang mengurbankan seekor domba tahun lalu, tidak akan mampu membeli apa pun tahun ini."